Jumat, 20 Maret 2015

Sabtu, 21 Februari 2015

Rencana Pemkot Budidaya Ikan Belida


Rencana Pemkot Budidaya Ikan Belida
Potensi sektor perikanan Sumatera Selatan harus terus dilakukan. Salah satunya mengoptimalkan produksi tambak yang tersebar di 17 kabupaten/kota

Ikan belida (notopterus chitala) yang menjadi icon Kota Palembang sudah sulit ditemukan. Terpicu kelangkahan tersebut, Penkot Palembang melalui Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan akan melakukan penangkaran pada tahun depan dengan mencari induk ikan tersebut.

________________________________________

Keberadaan ikan belida banyak dijumpai hanya sebagai ikan hias. Ini karena terbilang jenis ikan langkah. Sebelumnya, ikan tersebut sebagai bahan baku pembuatan pempek, tapi lambat laun makin habis. Kalaupun ada, harganya jauh lebih mahal sehingga tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat.

Ir H Harrey Hadi Ms selaku Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kota Palembang pada 2016 akan mencari indukan belida dan ikan gabus yang menjadi bahan dasar pembuatan pempek yang ditemukan. “Dicarinya indukan belida dan gabus, sebagai riset pengembangan budidaya ikan belida yang dilakukan dengan asumsi teknologi memija (kembang biak),” ujarnya.

Ia mengatakan, bila program budidaya ikan belida ini berhasil, pihaknya akan melibatkan masyarakat untuk turut serta guna meningkatkan taraf hidup. “Tahap awal melakukan penangkaran induk,” terang Harrey didampingi Kabid Perikanan Ir M Yusuf dan Kasi Bina Usaha Perikanan Rani.

Ikan belida, kata Harrey, bersifat endemik (hanya bisa hidup di habitatnya). Apakah tidak ada teknologi, ia menegaskan, ada, tapi saat ini hanya sebatas eksperimen dengan skala kecil, untuk skala besar sangat sulit. “Bayangkan saja satu induk jantan dan satu induk betina ikan belida, untuk satu kali produksi paling banyak menghasilkan 50 telur yang belum tentu bisa menetas menjadi benih,” terangnya.

Ikan yang hidup di air tawar ini jika diambil dari hasil tangkapan habitatnya paling lama hanya bertahan enam. “Tergantung perlakuan dan penanganan. Hanya, dari tempat tangkapan bisa bertahan enam jam dengan menggunakan oksigen. Jika sudah enam jam oksigen harus diganti,” ulasnya.

Lanjutnya, pada 2014 produksi ikan di Palembang naik 10 persen dari tahun sebelumnya. Untuk budidaya 13.205,47 ton, tangkapan 1.366,04 ton. “Target produksi ikan pada 2014-2018 mencapai 13.227,77 ton untuk seluruh ikan budidaya,” terangnya.

Nah, untuk tangkapan perairan umum jenis ikan gabus yang produksinya mencapai 1.96,24 ton. Sedangkan budidaya terdiri dari kan patin sebesar 6.420,75 ton, lele 3.374 ton, nila 634,07 ton, gurami 765,70 ton.

“Dinas Perikanan untuk meningkatkan produksi ikan di Palembang melakukan pembinaan di setiap kecamatan. Hanya untuk binapolitan (kawasan pengembangan produksi ikan, red) terhadap ikan belida. Hanya, setiap enam jam oksigen haru dig anti,” katanya.

Lihat saja, setiap ikan belida yang dijumpai di pasar pasti sudah mati, kalaupun ada yang hidup pastinya dijadikan ikan hias. “Penangkaran ikan belida saat ini belum ada, sebab jenis ikan ini termasuk ikan yang hidup di perairan umum,” katanya.

Ikan belida, ikan ini memiliki ciri punggung seperti pisau yang meninggi sehingga bagian tampak perut melebar dan pipih. Biasanya ikan ini hidup di sungai yang tenang airnya. Ikan ini juga biasanya memiliki corak bulat-bulat hitam di bagian tubuhnya. “Ikan ini dikenal karena rasanya yang khas,” terangnya. Untuk pengawasan, DP2K melakukan tindakan preventif agar tidakk ada ilegal fishing, penangkapan ikan dengan menggunakan racun atau penyetruman.

Diungkap Harrey, saat ini ada Balai Benih Ikan di Soak Bujang, Gandus. Namun, yang dibudidayakan jenis lele, patin, nila, dan gurami. Untuk pempek atau kemplang berbahan baku ikan belida, diakuinya, sudah sangat jarang ditemui. Karena pertumbuhannya sangat minim, pihaknya tidak punya data produksi ikan belida di Palembang. “Kalau untuk produksi terbesar Palembang adalah iikan patin,” tandasnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Ir Permana MMA, mengatakan, saat ini produksi ikan hanya cukup digunakan untuk konumsi lokal. “Ekspor unggulan masih pada sektor pertambangan dan perikanan, batu bara, CPO, karet, kayu, serta gas,” katanya.

Katanya, sektor perikanan untuk ekspor masih mendominasi udang dan kodok yang kebanyakan negara Jepang dan Korea. “Tidak begitu besar untuk ekspornya, Sumsel masih surplus. Artinya, masih besar impor dari ekspor,” terang Permana. Saat ditanya untuk ikan belida yang saat ini cenderung langka ditemukan di pasaran. Dirinya mengaku, belum ada budidaya hingga saat ini. Katanya, ikan belida dulunya makanan para sultan yang banyak berada di pperairan Sumsel. Untuk realisasi ekspor non-migas menurut jenis komoditas Provinsi Sumsel ikan segar pada 2014 sebanyak 582 ton untuk periode Januari hingga Juli 2014. “Tergantung permintaan, tidak setiap saat ekspor,” tukas Permana. (nni/asa/ce1)


Anggota DPRD Kota Palembang M Aidil Adhari, mengatakan, wacana Pemkot Palembang melalui Dinas Perikanan yang bakal membudidayakan indukan ikan belida dan gabus – guna menjaga populasi ikan belida yang saat ini cenderung langka – merupakan program yang dilakukan.

“Kita sambut baik wacana Dinas Perikanan untuk membudidayakan indukan ikan belida, sebab saat ini diakui sudah sulit dijumpai. Kalaupun ada hanya temat-tempat tertentu dan harganya cenderung mahal,” ujar M Aidil Adhari.

Potensi ikan air tawar di Palembang, lanjut M Aidil, sangat bagus jika populasinya tetap dijaga dengan baik. Misalnya, menjaga Sungai Musi tetap baik, terhindar dari limbah industri dan rumah tangga.

“Jangan biarkan Sungai Musi tercemar, pemerintah harus tegas jika ada masyarakat atau industri yang melakukan pencemaran,” ucapnya.

Katanya, rencana budidaya indukan ikan belida jika sudah berjalan harus seriau dijalankan, jangan hanya semangat di awal, tapi kenyataan di tengah jalan hilang begitu saja.

“Semua harus ada keseriusan, jangan hanya semarak di awal, kemudian melempem di tengah jalan,” ucap M Aidil.

“Ancaman kelangkan ikan belida saat ini sangat bagus sekali jika ada program budidaya. Selain sebagai icon Palembang, juga untuk konsumsi juga baik bahkan besar kemungkinan nantinya bisa mendongkrak perekonomian masyarakat di Palembang,” tukasnya. (nni/ce1)
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumsel, Sri Dewi, mengatakan, permintaan ikan di Sumsel rata-rata ikan air tawar, bukan ikan laut. “Masyarakat tidak perlu khawatir, kami pastikan pasokan ikan aman,” terangnya, belum lama ini.

Ia mengatakan, permintaan ikan di Sumsel terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, itu dipicu oleh pertumbuhan jumlah penduduk Sumsel. “Kami optimis bisa mencukupi permintaan karena kami juga harus berusaha meningkatan produksi sendiri seperti pembudidayaan ikan yang benar,” ungkapnya.

Dikatakan, untuk meningkatkan produksi ikan, pihaknya terus berupaya dengan cara mengedukasi para pengelola tambak dalam hal pembudidayaan ikan dan para nelayan cara menangkap ikan yang benar.

“Nelayan terus kita imbau agar tidak menggunakan alat-alat penangkap ikan yang berbahaya. Seperti racun maupun bom. Karena selain menjaga kesehatan konsumen juga untuk menjaga spesies agar tetap ada,” imbuhnya.

Dikatakannya, ada dua jenis ikan yang memenuhi permintaan masyarakat, yakni hasil tangkapan nelayan baik di laut maupun perairan umum seperti sawah, keramba, keramba jaring apung (KJA) maupun pen sistem dan hasil budidaya. “Memang saat ini kita masih tergantung dari nelayan karena pasokan terbesar masih dari hasil tangkapan di perairang Sungsang,” katanya.

Sementara hasil budidaya saat ini belum begitu maksimal karena masih banyak daerah kabupaten/kota yang membuat tambak ikan. “Saat ini baru beberapa kabupaten yang memiliki tambak ikan dalam jumlah besar yakni Pagaralam dan Musi Rawas,” imbuhnya.

Sedangkan untuk kabupaten/kota lain belum memiliki. Nah, lokasi inilah rencananya akan kita sosialisasikan untuk melakukan penambakan ikan. Dikatakan, luas budidaya perikanan di Sumsel hingga akhir 2013 tercatat sebanyak, tambak 29.838 hektare, kolam air deras (KAD) 1.559 unit, kolam air tenang (KAT) 12.955 hektare, sawah 17.609 hektare, keramba 15.407 unit, KJA 1.886 unit dan pen sistem 2.075 unit. “Dari total penangkaran tersebut produksi ikan di Sumsel mencapai 435.001 ton per tahun,” ungkapnya.

Saat ini konsumsi masyarakat Sumsel rata-rata mencapai 35,8 kilogram per harikapita per tahun. Artinya, jika dikalkulasikan dengan total masyarakat Sumsel yang berkisar 8 juta jiwa. Dinas Kelautan dan Perikanan Sumsel harus menyiapkan pasokan ikan berkisar 286 ribu ton per tahun. “Artinya, dengan jumlah budidaya saat ini Sumsel sudah bisa mengekspor ikan ke provinsi lain,” tandasnya. (nni/asa/ce1)


Penggunaan bahan peledak dan bahan kimia berbahaya memang dilarang dalam penggunaannya di dunia perikanan, baik di perairan umum berupa laut maupun sungai dan danau.

Penggunaan bahan peledak berbahaya dapat mengakibatkan rusaknya dan pencemaran bagi lingkungan perairan, sampai dapat merusak renik dan ikan yang masih kecil mupun bibit ikan. Sehingga akan memusnahkan jenis-jenis ikan tertentu. Demikian diungkap Kabid Perikanan Dinas Perikanan Kota Palembang Ir M Yusuf.

Katanya, meski diketahui semua orang bahwa menangkap ikan di laut memang menggunakan bermacam alat tangkap, sehingga hasil tangkapanya juga bervariasi. Apalagi nelayan yang pekerjaan sehari-harinya memang mencari ikan di laut, sehingga wajar jika menggunakan alat tangkap yang cepat dan banyak hasilnya. “Nelayan sekarang sudah semakin pintar seiring dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi,” ucapnya.

Penangkapan ikan bersifat merusak (destructive fishing) merupakan bentuk upaya penangkapan ikan yang membawa dampak negatif bagi populasi biota dan ekosistem. Jenis penangkapannya dengan menggunakan racun sianida, potassium, dan racun tumbuhan. Selain itu, menangkap ikan dengan mengunakan bahan peledak (bom), serta menggunakan alat jaring bermata kecil (nonselektif) dan menghancurkan struktur bentuk (pukat dasar dan modifikasinya). “Apapun bentuknya, tangkapan yang bersifat merusak dilarang oleh pemerintah,” tandasnya. (nni/asa/ce1)

Sabtu, 12 Januari 2013

Makhluk-Makhluk Aneh yang Ditemukan Tahun 2012

Atretochoana eiselti, amfibi berbentuk penisPaucidentomys vermidax
Ilmuwan mendokumentasikan perilaku lele baru. Jenis lele Eropa ternyata mampu berada di daratan sejenak dan memakan burung merpatiIllacme plenipes


Di antara banyak temuan ilmuwan di dunia, beberapa di antaranya tergolong tak biasa dalam sudut pandang manusia. Tak jarang, temuan itu dianggap porno, tidak mungkin, ataupun mengada-ada. Apa saja temuan paling aneh sepanjang tahun 2012? Berikut uraiannya:

Amfibi berbentuk penis
Kalau ada satwa paling aneh, mungkin inilah dia. Ilmuwan menemukan makhluk yang berbentuk mirip ular yang masuk golongan reptilia, tetapi sejatinya merupakan amfibi. Morfologinya pun mirip dengan alat kelamin pria alias penis. Spesies ini diberi nama Atretochoana eiselti.

Kantung semar pemakan tikus
Spesies kantung semar terbaru ditemukan di Filipina. Nepenthes attenboroughii, demikian nama spesies tersebut, merupakan kerabat kantung semar di Kalimantan, Nepenthes rajah. Yang menakjubkan, kantung semar ini bisa memakan tikus, menghancurkan tubuh tikus dengan enzim pencernaannya.

Tikus tanpa geraham
Spesies ini ditemukan oleh peneliti Pusat penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Anang Setiawan Achmadi, yang bekerja sama dengan beberapa peneliti lain. Tikus tanpa geraham ini mendiami wilayah Sulawesi. Adanya spesies tersebut menunjukkan bahwa proses evolusi tidak selalu maju, tetapi bisa berbalik.

Makhluk pemakan DNA
Ilmuwan menemukan bahwa sebagian DNA dari makhluk bernama bdelloidea ternyata berasal dari bakteri. Menurut hipotesis ilmuwan, makhluk itu memakan DNA untuk bertahan hidup tanpa reproduksi secara kawin.

Ikan dengan "penis" bercabang empat
Monster dengan alat kelamin serupa penis bercabang empat itu bernama Gambusia quadruncus. Ilmuwan mengatakan, penis bercabang berguna untuk membantu pejantan mengatasi halangan ketika mentransfer sperma pada betina yang kelaminnya memiliki struktur pelindung.

Penguin menyetubuhi jasad
Seksualitas penguin mengejutkan ilmuwan. Satwa ini ternyata suka menyetubuhi jasad. Ilmuwan belum mengetahui apakah perilaku ini memang sengaja atau terjadi karena penguin tak mampu membedakan betina yang masih hidup dan sudah mati. Yang jelas, menurut pandangan ilmuwan, posisi betina mati mirip saat bereproduksi. Sebelumnya, penguin diketahui memiliki perilaku pemaksaan seksual dan homoseksual.

Lele pemakan merpati
Di bulan Desember 2012, ilmuwan menemukan perilaku aneh spesies Silurus glanis. Jenis lele yang berasal dari wilayah sungai Perancis itu mampu memakan merpati. Lele bergerak mendekati daratan, sekejap mengeluarkan sebagian tubuhnya dari air, menyambar merpati dan membawanya ke air untuk memakan. Perilaku ini kali pertama ditemukan pada lele dan membuat ilmuwan kaget.

Hewan punya 750 kaki
Spesies Illacme plenipes menjadi salah satu spesies paling aneh yang ditemukan tahun 2012. Panjang tubuh hanya 3 cm, hewan ini punya 750 kaki. Makhluk ini diduga hidup sejak 200 juta tahun lalu, saat Afrika masih bergabung dengan California dalam daratan Pangaea.

Editor : Soegeng Haryadi
Sumber :
Tribunnews
Sriwijaya Post - Sabtu, 29 Desember 2012